media online ukuran baru
Ads Bangka Selatan
Ads Bangka Tengah
Ads Bangka Barat
previous arrow
next arrow
300 DAPIL 1 500X300 LOBANG SAJA
300 DAPIL 3 500X300 LOBANG SAJA
300 DAPIL 2 500X300 LOBANG SAJA
300 DAPIL 4 500X300_2 PCS LOBANG SAJA
previous arrow
next arrow

“1 Kg Butuh 3,5 Ekor Kucing, dalam Setahun Bisa 1.200 Kucing Dijagal…”

KOPPINEWS.ID, Medan – Anjing dan kucing merupakan hewan peliharaan yang kerap ditangkap dan dikonsumsi. Animal Defenders Indonesia mengatakan, mengonsumsi daging anjing dan kucing bisa berpotensi tertular penyakit. Begitu pun anggapan dapat menyembuhkan asma adalah mitos.

Ketua Animal Defenders Indonesia Doni Herdaru mengatakan, konsumsi daging kucing dan anjing di Medan tinggi.

“Kalau di Medan, kasus kucing dan anjing (dikonsumsi) jelas tinggi. Untuk kasus daging anjing, Medan buat saya nomor 2, nomor 1 itu Jawa, di Surakarta, Solo Raya. Jakarta itu nomor 3,” katanya ketika ditemui di Mapolsek Medan Area pada Selasa (2/2/2021) siang.

Baca juga  Personil Pam Obvit Satuan Samapta Polres Pangkalpinang, Patroli Dan Menghimbau Terkait Covid 19 Kepada Masyarakat

Doni menyebutkan, Animal Defenders tidak memiliki angka pasti jumlah konsumsi daging kucing di Kota Medan karena daging kucing kurang populer dibanding daging anjing.

3,5 ekor kucing jadi 1 kg daging kucing Dia
mencontohkan, di lokasi jagal kucing di Jalan Tangguk Bongkar, informasi yang diterimanya, juga dijadikan sebagai tempat usaha katering.

“Bisa dibayangkan kalau minimal sehari, dia kan jualnya 1 kg Rp 70.000. Untuk 1 kg daging kucing yang dihilangkan kepala dan isi perutnya, 1 kucing beratnya paling banyak 300 gram. Maka, untuk 1 kg butuh 3,5 ekor,” katanya.

Untuk mendapatkan 1 kg dibutuhkan 3,5 ekor kucing. Jika diasumsikan sehari 1 kg daging kucing maka dalam sebulan dia bisa menjagal hampir 100 ekor.

Baca juga  Melati Erzaldi : Pentingnya Peran Perempuan Dalam Kerukunan Umat Beragama

Dalam setahun, lanjutnya, ada 1.200 ekor yang dijagal.

“Jika 15 tahun, silakan hitung. Berapa banyak potensi penularan penyakit yang ditimbulkan pada lingkungan,” katanya.

Hal yang juga harus dilakukan adalah edukasi kepada masyarakat tentang bahaya mengonsumsi daging kucing dan anjing.

Menurutnya, yang mengonsumsi daging kucing adalah kalangan tertentu yang kurang terdidik dan percaya daging kucing mempunyai khasiat.

“Itu mitos. Marilah kita edukasi. Asma ada obatnya, bukan makan kucing,” katanya.

Sumber : KOMPAS. COM
Editor    :  HR




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *