media online ukuran baru
Ads Bangka Selatan
Ads Bangka Tengah
Ads Bangka Barat
previous arrow
next arrow
300 DAPIL 1 500X300 LOBANG SAJA
300 DAPIL 3 500X300 LOBANG SAJA
300 DAPIL 2 500X300 LOBANG SAJA
300 DAPIL 4 500X300_2 PCS LOBANG SAJA
previous arrow
next arrow

“Kami Minta Pak Jokowi Tarik Aparat dan Petugas BWS, Hidup Mati Kami Sudah di Sini”

KOPPINEWS.ID, NTT – Penolakan pembangunan Waduk Lambo terus berdatangan dari masyarakat adat Desa Rendu Butowe, Kecamatan Asesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Setiap hari, masyarakat khususnya ibu-ibu menjaga gerbang masuk menuju lokasi yang akan menjadi tempat pembangunan Waduk Lambo.

Dilangsir KOMPAS.com, Belasan ibu-ibu berdiri tegak di gerbang masuk untuk mengadang petugas Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II dan aparat kepolisian yang hendak melakukan pengukuran, Rabu (13/10/2021).

Mereka bahkan meminta Presiden Jokowi menarik aparat dari lokasi tersebut.

“Kami minta Pak Jokowi tarik semua aparat keamanan dan petugas BWS dari lokasi. Sampai kapan pun kami tetap menolak waduk ini menenggelamkan tanah ulayat. Hidup dan mati kami sudah di sini,” kata salah seorang warga bernama Hermina Mawa.

Usir petugas
Dengan suara lantang, sejumlah ibu-ibu di lokasi melarang petugas dan aparat masuk ke lokasi.

Baca juga  Nelayan Hilang, Polsek Tempilang Bersama Tim Gabungan Lakukan Pencarian

“Tidak boleh ukur. Ini tanah ulayat kami. Kami tidak mau tanah ini hancur dan tenggelam,” teriak ibu-ibu tersebut di hadapan aparat kepolisian yang hendak masuk lokasi.

“Pergi kalian dari sini. Masuk tanah orang tanpa izin pemilik,” teriak mereka.

Amarah mereka pun semakin tersulut saat melihat aparat masuk ke lokasi tidak melalui jalan masuk, tetapi melalui hutan.

“Masuk di tanah kami macam pencuri. Makanya kami usir mereka dari lokasi,” kata Hermina.

Penolakan pembangunan waduk Aksi penolakan telah berlangsung beberapa kali di lokasi pembangunan Waduk Lambo.

Masyarakat sebenarnya tidak menolak pembangunan Waduk Lambo.

Namun, mereka meminta agar lokasi direlokasi.

Mereka menawarkan dua alternatif sebagai lokasi pembangunan waduk, yakni di Malawaka dan Iowopebhu.

Baca juga  Di duga Korsleting Listrik,Pasar Tradisional Campurdarat Ludes Terbakar

Ketua Badan Pengurus Harian Aman Wilayah Nusabunga Flores-Lembata, Philipus Kami, menjelaskan, pada dasarnya masyarakat adat tidak menolak pembangunan waduk yang juga merupakan program strategis nasional itu.

Namun, mereka menolak lokasi pembangunan di Lowo Se karena terdapat berbagai identitas budaya di tempat tersebut.

Mulai dari padang perburuan adat, gereja, sekolah SMP dan SD, rumah-rumah warga serta lahan pontesial masyarakat adat.

“Sudah berkali-kali, bahkan sudah disampaikan langsung oleh utusan masyarakat adat kepada Kementrian PUPR pada Agustus 2017 yang lalu di hadapan BWS NT II. Bapak Menteri PUPR mengatakan bahwa jangankan 100 orang, satu warga saja masih tolak waduk tidak jadi dibangun,” tutur Philipus .

Sumber : KOMPAS.com
Editor    : Hary

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *